- Jika Lingkungan fisik misalnya Ruang kerja yang nyaman maka akan timbul motivasi kerja Penilik akan meningkat.
- Jika Lingkungan Sosial misalnya hubungan dengan atasan teman sekerja atau denganpelanggan baik maka perilaku penilik dari Sikap kerja dan moril kerja akan baik pula dan menghindari stres kerja dan perilaku konflik akan menurun bahkan tidak ada dan selanjutnya akan baik pula pada perilaku organisasi.
- Jika iklim organisasi pada sistem manajemen baik maka akan berkontribusi pada prilaku disiplin kerja, kepuasan kerja , motivasi kerja
Jumat, 23 September 2011
STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PENILIK MELALUI PENCIPTAAN IKLIM ORGANISASI DINAS PENDIDIKAN
Sabtu, 22 Januari 2011
STANDAR KOMPETENSI PENILIK
Standar kompetensi PTK-PNF meliputi enam komponen yaitu : (1) kompetensi kepribadian (2) kompetensi sosial, (3) kompetensi supervisi majerial, (4) kompetensi supervisi Akademik, (5) Kompetensi evaluasi pendidikan, dan (6) Kompetensi Penelitian dan Pengembangan Untuk lebih jelasnya masing-masing kompetensi dijabarkan sebagai berikut :
1. Kompetensi Keperibadian
Kompetensi keperibadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan keperibadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi mayarakat dan beakhlak mulia. Secara rinci setiap elemen keperibadian tersebut dapat dijabarkan menjadi subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut.
b. Bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai penilik satuan pendidikan nonformal.
c. Kreatif dalam bekerja dan memecahkan masalah yang berkaitandengan tugas-tugas kepenilikan.
d. Bersikap positif terhadap pembaharuan pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang tugas pokok sebagai penilik satuan pendidikan nonformal.
e. Memiliki motivasi kerja tinggi dalam rangka meningkatkan disiplin, budaya kerja dan kemandirian.
Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan pendidikan sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki indikator esensial : Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut.
a. Menguasai karakteristik social, ekonomi dan budaya masyarakat setempat.
b. Bekerja sama dengan berbagai pihak dalam melaksanakan tupoksi sebagai penilik satuan pendidikan nonformal.
c. Berperan serta dalam kegiatan organisasi profesi penilik dan organisasi profesi lainnya
d. Peka terhadap berbagai masalah yang terjadi pada masyarakat setempat.
e. Menguasai masalah social kemasyarakatan dan cara pemecahannya.
3. Kompetensi Supervisi Manajerial
Kompetensi yang berkenaan dengan penguasaan konsep, fungsi, prinsip, metode, teknik dalam supervisi. Secara rinci masing –masing elemen kompetensi tersebut memiliki subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut :
a. Menguasai fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam penyelenggaraan program PNFI
b. Menguasai konsep, prinsip, metode dan teknik supervise pendidikan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan PNFI
c. Menguasai teknik penyusunan rancangan dan pelaksanaan program kepenilikan pada PNFI
d. Menguasai metode dan instrument kerja untuk melaksanakan tugas kepenilikan pada PNFI.
e. Membina pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan PNFI
4. Kompetensi Supervisi Akademik
Kompetensi yang berkenaan dengan penguasaan prinsip dasar , metode, bimbingan pada satua PNFI. Secara rinci masing –masing elemen kompetensi tersebut memiliki subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut :
a. Menguasai konsep, prinsip dasar teori, metode satuan PNFI
b. Membimbing pendidik dan tenaga Kependidikan PNFI dalam menyusun silabus/ rencana pelalsanaan pembelajaran PNFI
c. Membimbing pendidik dan tenaga kependidikan dalam menggunakan dan mengembanagan media PNFI
5. Kompetensi Evaluasi Pendidikan
Kompetensi ini dalam penguasaan penilaian; memantau, menilai, membina , mengevaluasi pembelajaran , pendidik dan tenaga kependidikan PNFI . Secara rinci masing –masing elemen kompetensi tersebut memiliki subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut :
a. Menguasai prinsip=prinsip penilaian pendidikan dan aplikasi dalam program PNFI
b. Menilai kinerja Pendidik dan tenaga Kependidikan
c. Membina pendidik dan tenaga kepandidikan PNFI
d. Mengevaluasi kinerja satuan kinerja satuan PNFI
6. Kompetensi Penelitian dan Pengembangan
Kompetensi yang berkenaan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, prosedur penelitian dan trampil menyusun penelitian, Secara rinci masing –masing elemen kompetensi tersebut memiliki subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut :
a. Menguasai bidang ilmu Pengetahuan
b. Menguasai pendekata, metode, jenis dan prosedur penelitian untuk mengembangkan PNFI
c. Trampil melaksanakan penelitian
d. Trampil menyusun karya tulis ilmiah berbasis penelitian dan non-penelitian bidang PNFI
e. Membimbing pendidik dan tenaga kependidikan PNFI dalam melaksanakan penelitian tindakan.
Rabu, 19 Januari 2011
LATAR BELAKANG PENTINGNYA PEDOMAN DIKLAT FUNGSIONAL PENILIK Sebagai acuan Penyelenggaraan Diklat Fungsional Penilik di Daerah
Implementasi berbagai kebijakan tersebut di lapangan sangat ditentu-kan oleh tenaga kependidikan serta pendidik sebagai pelaku utama pendidikan. Komitmen dan profesionalisme para tenaga kependidikan inilah yang akan menentukan terjadinya perubahan dan peningkatan mutu pendidikan nasional. Salah satu unsur tenaga kependidikan pendidikan nonformal yang memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan dan peningkatan mutu pendidikan non formal adalah penilik. Penilik mempunyai ruang lingkup , tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan pengendalian mutu program pendidikan Non formal (PNF) melalui kegiatan pemantauan, penilaian, pembimbingan , pembinaan penyelenggaraan pendidikan non formal dan kegiatan evaluasi dampak program PNFI serta penelitian dan pengembangan PNFI. Untuk melaksanakan tugas tersebut mereka tentu harus memiliki pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan kemampuan yang memadai. Berkaitan dengan hal ini, telah diterbitkan Surat Peraturan Menteri Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 tahun 2010 tentang Jabatan fungsional Penilik dan Angka Kreditnya.
Selanjutnya dalam menerjemahkan dan merealisasikan peraturan tersebut di atas dibutuhkan berbagai kebijakan maupun kegiatan. Salah satu kebijakan penting yang harus diambil adalah berkaitan dengan proses rekrutmen dan pelatihan calon penilik , Uji kompetensi Penilik dan pelaksanaan tugas penilik. Mengingat luasnya wilayah Indonesia serta adanya otonomi daerah maka proses rekrutmen dan pelatihan calon penilik tidak mungkin diselenggarakan sepenuhnya oleh pemerintah pusat/kantor Kemendiknas, melainkan juga dilaksanakan oleh instansi di daerah. Untuk menjamin kualitas penyelenggaraan dan output diklat , maka dibutuhkan adanya standar yang sama.
Hal inilah yang menjadi latar belakang perlunya Pusat, Provinsi maupun kabupaten / kota di tahun 2011 segera menyusun Pedoman penyelenggaraan diklat berjenjang , karena keberadaan Penillik saat ini berada pada Dinas Pendidikan Kab/Kota dan melakukan tugasnya di kecamatan sehingga secara administrasi pengembangan karier Penilik diatur juga oleh pemerintah daerah. Dengan terbitnya Permenpan RB no. 14 tahun 2010 tentang jabatan fungsional Penilik dan Angka Kreditnya maka terdapat penyesuaian pelaksanaan tugas, jenjang jabatan Penilik. Sehingga berkaitan dengan peningkatan mutu Penilik perlu disusun petunjuk pelaksanaan diklat baik peyelenggara diklat maupun birokrat yang memiliki persepsi yang sama dalam memahami pelaksanaan diklat jabatan fungsional Penilik.
Pelaksanaan diklat fungsional Penilik disesuaikan dengan jenjang 4 (empat) jabatan yaitu (1) Diklat Fungsional Penilik Pertama, (2) Diklat Fungsional Penilik Muda, (3) Diklat Fungsional Penilik Madya dan (4) Diklat Fungsional Penilik Utama. Sedangkan materi Diklat disesuaikan dengan masing-masing jenjang jabatan dan tupoksinya.
Penyelenggara DIklat Fungsional tersebut akan dilaksanakan oleh Pusat dan daerah, yang di bantu oleh Organisasi Profesi ( Ikatan Penilik Indonesia) Pelaksanaan Diklat Fungsional Penilik Madya dan Utama diselenggarakan oleh Pusat sedangkan untuk Diklat Fungsional Penilik Pertama dan Muda akan diselenggarakan di daerah.
By : ARIF NASDIANTO (Sekjen Pengurus Pusat IPI)
Sabtu, 24 Juli 2010
KEBERADAAN PENILIK ANTARA SYUKUR DAN HARAPAN
Banyak sudah beberapa rumusan yang akan digulirkan untuk peningkatan karir Jabatan Penilik diantaranya yaitu peningkatan kualifikasi pendidikan bagi Penilik yang belum S1 , Batas Usia Pensiun Penilik 60 tahun, Peningkatan tujangan profesi dan sertifikasi Penilik. Variable dimaksud menandakan jabatan Penilik mengarah kepada peningkatan derajat Martabat Penilik yang lebih baik. Untuk menuju ke sana tentunya diperlukan beberapa regulasi sebagai dasar hukum. Seperti Permenpan dan reformasi Birokrasi No. 14/2010.
Peraturan tersebut di atas belum sesungguhnya final langsung dikonsumsi Penilik, artinya peraturan tersebut akan bisa diaplikasikan di lapangan jika nanti sudah terbit SKB (surat Keputusan bersama) antara BKN, MenPan dan Depdiknas serta terbitnya Juklak dan juknis PermenPan dimaksud.
Harapan;
Ikatan Penilik Indonesia dengan telah ditandatangani Peraturan Menteri Negara Aparatur Negara di atas sangat mendorong segera dituntaskan atau diterbitkan dan dapat diaplikasikan. Mengapa ...? Karena dalam peraturan tersebut merupakan sebagai dasar harapan penilik yang selalu dicita-citakan. antara lain BUP 60 tahun, tunjangan pendidikan dan sertifikasi penilik . Kawan-kawan apakah semua ini bisa terwujud......Semua ini akan dapat terwujud jika Peraturan di atas dapat dilaksanakan oleh segenap penilik dengan penuh profesional dan bijaksana. Dan bagi para pemangku kepentingan (Depdiknas dan instansi terkait) harus memahami bahwa jabatan penilik PNFI adalah jabatan yang langka yang tidak banyak dilirik oleh PNS lainnya.
Bagi Pemerintah Daerah; dengan terbitnya Peraturan di atas dan ditunjang dengan PP 19 tahun 2005 tentunya harus dapat mengakomodir peraturan dimaksud dalam pengangkatan dan penempatan kedudukan penilik.karena harus memperhatikan komposisi pegawai yang ada, agar tidak terjadi ketidakselarasan antara kebutuhan dan ketersediaan kualifikasi PNS yang ada dengan memperpanjang masa kerja tenaga yang keahliannya sudah tidak sesuai dengan dinamika jaman.
Untuk itujabatan dimaksud harus diisi oleh PNS yang memiliki keahlian yang memadai terhadap jabatan, serta merupakan jabatan yang kurang diminati sehingga kaderisasinya sulit. Pertimbangan lain, PNS bersangkutan masih produktif untuk berprestasi, sementara ketersediaan tenaganya langka.
by: ARIF NASDIANTO (Penilik Jakarta Timur)
sekjen IPI Pusat
Kamis, 18 Juni 2009
Kajian Historis Keberadaan dan Peran Penilik
Berdasarkan tugas pokok penilik yang diatur dalam Keputusan Mendikbud Nomor. 0304/O/1984 tersebut bahwa keberadaan dan peran penilik pendidikan masyarakat, penilik pembinaan generasi muda dan penilik keolahragaan adalah dalam rangka merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, mengevaluasi dan melaporkan hasil pelaksanaan program kepada Kepala Kantor Depdikbud Kecamatan yang selanjutnya akan menjadi laporan kepada Kepala Kantor Depdikbud Kabupaten/Kota dan Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi.
Setelah memasuki era otonomi daerah dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, terjadi penyerahan kewenangan bidang pendidikan dan kebudayaan, termasuk semua asset dan sumber daya manusia dari pemerintah pusat (Depdiknas) kepada Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Sejalan dengan itu, diberlakukan pula Peraturan Pemerintah Nomor 84 tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, bahwa jabatan struktural eselon V termasuk jabatan penilik ditiadakan, sehingga keberadaan penilik mengalami ketidakpastian.
Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, Depdiknas bersama dengan Kantor Meneg PAN dan BKN pada tahun 2002 merumuskan jabatan fungsional penilik sebagaimana diatur dengan Keputusan Menpan Nomor 15/KEP/M.PAN/3/2002 tentang Jabatan Fungsional Penilik dan Angka Kreditnya. Dengan terbitnya Keputusan Menpan tersebut, maka keberadaan penilik dapat dipertahankan dan sekaligus dilakukan alih fungsi (inpassing) dari jabatan struktural eselon Va menjadi jabatan fungsional yang berkedudukan pada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Selanjutnya Depdiknas dhi Ditjen PLSP sejak tahun 2003 melakukan sosialisasi untuk memberikan pemahaman tentang Keputusan Menpan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota (Dinas Pendidikan, Badan Kepegawaian Daerah/Biro Kepegawaian Pemda, dan Penilik seluruh Indonesia, baik melalui tatap muka maupun melalui pendistribusian himpunan keputusan yang terkait dengan Jabatan Fungsional Penilik.
Kamis, 11 Juni 2009
TUTOR STUDY GROUP PACKAGE A,B,C IN NONFORMAL EDUCATION
oleh: Arif nasdianto
National Education is in the business life of the nation achieve more specific, goal directed in an effort to improve the quality of human resources and Indonesia as the most important factor in the implementation of national development.
Implementation of government policy in the framework of the above macro, the government emphasis on expanding opportunities for education for all Indonesian citizens, increasing the quality and efficiency of education management. Whereas in order to produce a micro is a graduate of quality education at every level and type. The creation of a quality graduate education is a systematic effort to contact each other between the Input, Process, Output and Outcome.
Tutor (staff's) is one of the factors predictive factor is determine the success of activities in education. Therefore, efforts to increase the capacity and skills of teaching must be continually strived through education and training in accordance with their needs. This meant that the tutors Package A, B, C have the ability to do its work and professional skills, expertise and finesse that is required for a tutor to carry out the task of learning at the time of the tutorial, self-study guide and study groups. Requirements, among other things, (1) the material, (2) managing the program, (3) manage the class, (4) the runway education, (5) using the media / resources, (6) manage the learning interaction, ( 7) assess the achievement of learning, (8) the functions of guidance and counseling program in the study groups, (9) and conducting the administration PKBM / school, (10) understand the principles and interpret results of educational research for the sake of learning.
Reality in the field showed that the implementation of the package A, B, C system is designed with the learning module can not run as expected, energy tutor package A, B, C are mostly not from education, many have not understand the model of learning modules, the minimal administration of the Package A, B, C, low Managerial Manager in carrying out the Program Package A, B, C, persuasive manager less visible to the tutor. This is due tutor training package A, B, C or less focus on the tutorial material, lack of a tutorial book. To managemen , then we as the inspector must give a proposal to the bureaucratic authorities immediately so that the implementation of training / upgrading specifically for tutors Program Package A, B, C. (ARIF NASDIANTO. Penilik Jakarta Timur)
Sabtu, 29 November 2008
HASIL EVALUASI KONTEKS PADA PENYELENGGARAAN PROGRAM PAKET C SETARA SMA DI JAKARTA TIMUR TAHUN 2007
Arif Nasdianto
Penilik Jakarta Timur
1.
Upaya yang dilakukan dari hasil evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan, kebutuhan yang diatur perioritasnya, agar dapat menjawab pertanyaan “ Apakah tujuan Paket C setara SMA yang ingin dicapai, telah dirumuskan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk itu dalam evaluasi konteks terhadap program paket C di wilayah Jakarta Timur, kebutuhan masyarakat /warga belajar dalam mengikuti program antara lain ;
Tabel. 5. Data tentang Prioritas Kebutuhan Warga Belajar dalam mengikuti Program Paket C setara SMA
| | Kebutuhan | f | % |
| 1. 2. 3. 4. 5 6. | Dapat bekerja/usaha mandiri setelah mendapt ijazah Melanjutkan Perguruan Tinggi Dapat teman Baru Mengikuti teman Alasan lain | 43 46 7 2 2 0 | 43 46 7 2 2 0 |
Melihat data di atas, maka warga belajar yang mengikuti program Paket C setara SMA terdapat 43 % beralasan memiliki kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan setara dengan SMA, 46 % untuk dapat bekerja atau dapat usaha mandiri, 7% memilik kebutuhan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dan masing –masing mendapatkan 2% hanya ingin mendapatkan teman baru dan ikut teman, 0% menunjukan bahwa warga belajar tidak punya alasan lain untuk mengikuti program paket C .
Data di atas menginformasikan bahwa program paket C setara SMA dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta Timur perioritas pertama adalah untuk modal mencari pekerjaan atau usaha mandiri, perioritas kedua mendapatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan setara SMA, perioritas ketiga melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Dari tiga prioritas kebutuhan ini menunjukan bahwa program paket C setara SMA di Jakarta Timur tahun 2007 ada kesesuaian dengan tujuan Program Paket C sebagai Program Pendidikan Kesetaraan. Pernyataan tersebut, menandakan bahwa tujuan Program Paket C setara SMA di Jakarta Timur berjalan dengan baik.
2. Kondisi Lingkungan/Sosial
| o | Kebutuhan | f | % |
| 1. 2. 3. 4. 5 6. | Keadaan Orang Tua tidak mampu menyekolahkan Usia tidak memungkinkan sekolah di formal Waktu tidak memungkinkan karena bekerja Alasan lain | 39 37 6 8 10 0 | 39 37 6 8 10 0 |
Kondisi sosial dan lingkungan warga masyarakat, ternyata yang menjadikan Program Paket C setara SMA di Jakarta Timur tahun 2007 sangat diminati, hal ini menunjukan bahwa Program Paket C di Jakarta Timur, sesuai dengan tujuan, fungsi dan sasaran Program Pendidikan Kesetaraan (Program Paket C setara SMA).
Sabtu, 22 November 2008
PENTINGNYA TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PENGEMBANGAN PROFESI PENILIK DALAM CYBER ERA
H.A.R. Tilaar, Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi: Visi, Misi, dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020, Gramedia, Jakarta, 1997
Ikatan Penilik Indonesia Pengurus Pusat
PENDAHULUAN
Penilik kini mulai mengikuti era informasi. Apakah makna era informasi bagi kehidupan kerja seorang penilik? Era informasi yang didukung oleh revolusi teknologi informasi telah mengubah budaya Penilik menjadi paham dan cermat informasi artinya tidak GATEK DAN TELMI lagi.
Teknologi informasi yang telah memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan Penilik. Kini menjadi popular apa yang disebut e-life. E-life (Electronic Life) telah merupakan suatu
E-life secara pelan tapi pasti juga memasuki dunia perbukuan. E-life telah melahirkan e-book sebagaimana yang dipopulerkan di dalam pameran buku internasional ke-52 di Frankfrut dalam bulan Oktober 2000. di dalam pameran buku yang terkenal itu mulai dipopulerkan masyarakat e-book. Lahirlah berbagai bentuk kebudayaan untuk menyimpan dan mentransmisikan informasi.
Membicarakan dunia perbukuan sekurang-kurangnya meliputi tiga hal, yaitu adanya penulis yang berkarya melahirkan buku-buku, adanya pembaca yang memanfaatkan hasil karya penulis, dan akhirnya kehidupan industri perbukuan.di dalam era informasi atau di dalam era masyarakat digital, ketiga unsure perbukuan tersebut di pengaruhi oleh kemajuan teknologi.informasi. E-life yang memasuki dunia perbukuan sangat dipengaruhi dengan adanya perangkat keras yaitu processor yang semakin kecil sehingga sangat membantu di dalam kemudahan penggunaanya., perangkat lunak yang semakin canggih, dan teknologi komunikasi yang semakin murah. Keuntungan-keuntungan tersebut tentunya akan mengubah cara-cara penulisan buku, cara-cara membaca, dan proses memperoleh informasi, serta mengubah industri perbukuan dari bentuknya yang tradisional memasuki industri buku di dalam era cyber dengan budaya digitalnya.
A. ELEGIGUTENBERG ATAU ELEGI BIRKERTS?
Johann Gutenberg dianggap sebagai bapak penemu teknologi mencetak dengan huruf lepas. Pada tahun 1442 karya cetaknya telah ditemukan berupa sehelai kertas bertuliskan 11 baris huruf cetak. Kebudayaan umat manusia karenanya mengalami revolusi yang sngat menentukan di dalam pengembangan dan perluasan informasi kepada rakyat banyak. Dapat kita gambarkan betapa bentuk kebudayaan manusia tanpa penemuan Gutenberg. Teknologi percetakan huruf lepas tersebut terus-menerus berkembang dan tersebar di seluruh dunia. Pada tanggal 29 November 1814 harian the times di London untuk pertama kali dicetak dengan menggunakan mesin cetak uap. Dan teknologi percetakan terus mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga pada tahun 1982 the times menjadi surat kabar Inggris pertama yang secara keseluruhan diset dengan metode fotografi.
Revolusi terhadap duia percetakan tentunya memberikan kengann yang indah bagi umat manusia, kini dengan kemajuan teknologi yang pesat, teknologi digital, maka penemuan Johann Gutenberg seakan-akan hilang dan terlupakan. Tidak mengherankan seorang kutu buku bernama Sven Birkerts telah menulis buku yang sangat melankolis berjudul Elegi Gutenberg. Bikerts meratapi penemuan besar Gutenberg yang mengubah lifestyle umat manusia kini menuju kepada kematiannya. Bikert memang patut pesimis. Dia hidup di dalam suatu kebudayaan serba “alon-alon asl kelakon”. Dia menangisi akan lahirnya kebudayaan pop yang serba cepat dan segera berlalu sehingga kekurangan waktu untuk menghayati dan menikmati hasil-hasil karya tulis di dalam membaca.
Ratapan Bikerts tidak sepenuhnya disetujui oleh Putut Wijanarko menunjukan adanya dua teritori yang kedua yang disebut teritori “syber space” yang melihat kepada kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas dari kemajuan teknologi informasi. Memang masih diragukan efektivitas darisarana baru terhadap intensitas baca dan menikmati hasil-hasilsastra. Namun demikian, gelombang perubahan teknologi informasi tidak dapat dibendung oleh siapa saja.
Dewasa ini Penilik mulai mengenal revolusi di dalam penyebaran informasi bacaan melalui amazon.com, press on Demand (POD), dan berbagai teknologi informasi lainnya seperti took buku on-line dan e-matter.rupa-rupanya Guternberg tidak perlu sedih hati oleh sebab betapa pun perubahan yang terjadidi dalam teknologi penyebaran informasi, tetap saja hasilkarya tulisan dengan cepat dan lebih murah kini direalisasikan seluas-luasnya tanpa batas untuk umat manusia. Memang kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat telah menghilangkan berbagai jenis pekerjaan yang telah dilahirkan oleh penemuan peralatan cetak sejak Guternberg.
B. LAHIRNYA GENERASI BARU: THENET-GENERATION
Perubahan teknologi informasi telah mempengaruhi pengadaan, penyebaran dan penyajian data-data informasi dan pengetahuan serta sastra. Telah lahir duniamaya dengan informasi yang tanpabatas dan secara bertahap akanmudah dikuasai oleh umat manusia. Dengan kemajuan teknologi informasi tersebut, menurut pengamatan Don Tapscott telah lahir suatu generasi baru yang disebut the net-generation atau ”N-Gen”.
The net-generation, atau generasi internet adalah generasi baru yang muncul pada dua decade terakhir abad 20. generasi ini hidup dengan dunia digital atau computer, hidup di dalam samudra informasi yang dapat di akses di mana saja dan kapan saja. Ditompang oleh perangkat-perangkat lunak computer yang semakin canggih serta biaya komunikasi yang semakin murah, maka arus informasi akan semakin dapat di jangkau oleh semua orang.revolusi ini tentunya menuntut cara-cara baru dalam penguasaan ilmu pengetahuan, informasi, dan hasil karya sastra. Tentunya banyak cara dalam metodologi, apresiasi serta penulisan informasi yang dikenal selama ini akan di ubah. Inilah budaya baru yang dilahirkan oleh kemajuan teknologi informasi.
Bagaimana impact dari teknologi baru ini terhadap proses belajar dari net generation? Don Tapscott menyatakan sebagai berikut.
At the heart of N-Gen culture is interactivity. Children today increasingly are participatiants not viewers. They are incited to discourse.
Pengamatan Don Tapscott ini mengandung tiga unsure proses belajar yang asing di dalam budaya lama, yaitu : interaktif, partisipasi, dan diskursus. Budaya interaktif memerlukan suatu proses belajar-mengajar yang baru, oleh karena peserta yang belajar atau pembelajaran bukan bersifat pasif tetapiaktif. Si pembelajar berinteraksi dengan sesame, dengan para pakar baik secara langsung maupun melalui kerya-karya dengan menggunakan perangkat internet. Di dalam proses interaktif tersebut maka si pembelajar adalah seseorang partisipasian dan bukan seorang boneka yang sekedar hanyamenerimasegalasesuatu yang dituangkan kedalamnya, seperti system bank menurut Paulo Freire. Demikian pula di dalam proses interaktif tersebut, si pembelajar bukanlah pasif tetapi secaraaktif mengadakan diskursus mengenai segala hal yang ditemukan di dalam pengembaraanya dalam dunia maya tanpa batas.
Proses pembelajaran tentu meminta sosok seseorang teman mitra belajar dan sarana belajar yang berbeda. Sarana belajar tidak terbatas di dalam kelas, “school without walls”, juga tidak tergantung pada seorang guru karena guru sekedar hanya sebagai fasilitator, juga tidak terbatas pada buku-buku teks, atau buku-buku perpustakaan, karena informasi dapat diketahui dan di analisis dari berbagai sumber. Yang diperlukandi sini ialah kemampuan daya analisis. Proses pembelajaran ini berkembang sangat pesat. Sebelum perkembangan televisi maka yang dipentingkan ialah pertemuan tatap muka. Dengan adanya televise si pembelajar menjadi pemirsa.(viewer), dan ditemukannya net sebgai server makasi pembelajar menjadi penegmbara (roamer).
Mengenai budaya baru N-Gen, yang tentunya mempengaruhi dunia perbukuan, kita ambil hasil pengamatan Don Tapscott sebagai berikut. N-Generation cenderung untuk berfikir bebas, mempunyai keterbukaan emosional dan intelektual,serta memiliki budaya inklusivisme. Selanjutnya, generasi ini mempunyai kebebasan untuk menyatakan sesuatu, mempunyai kebudayaan untuk berinovasi, sertasesuatu sikap kematangan karena tidak terikat kepada doktri-doktrin tertentu. Mereka mempunyai budaya untuk menyelidiki dan tidak puas terhadapsesuatu penemuan. Oleh karena informasi terus bertambah, diperkaya, dan berubah maka generasi ini adalah generasi yang percaya kepada kekinian. Mereka tidak cepat percaya terhadap propaganda-propaganda gombal tanpa alas an-alasan yang rasional, dan oleh sebab itu pula mereka cenderung untuk membangun suatu bangsa yang otentik. Tentunya semua sikap ini mengubah proses pembelajaran dai N-Gen.
Ada sesuatu yang menarik dalam revolusi belajar semacam ini. Duncan Grey mengatakan bahwa diperlukan suatu generasi guru untuk mengedopsi dan beradaptasi dengan proses pembelajaran yang baru itu. Hal ini perlu mendapatkan perhatian kita. Di dalam suatu konferensi internasional disponsori oleh PBB dan UNESCO bulan juli 2000, dibicarakan mengenai adanya digital divide antara Negara industri dan Negara-negara berkembang. Gap iniakan semakin lama semakin besar apabila tidak diambil langkah-langkah dari dunia berkembang maupun dari dunia industri untuk membantu mengatasinya. Sementara itudunia berkembang perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar di dalam teknologi informasi dalam rangka untuk mewujudkan cita-cita konferensiYom Tien 1990, “Education for All”,yang mengalami berbagai kendala termasuk keterbatasan biaya serta keterbatasan teknologi.
C. MANAJEMEN PENULISAN BUKU DALAM ERA-MAYA
Mengenai penulis, berkenaan dengan adanya motivasi penulis, oleh karena si penulis dapat memperoleh kepuasan serta penghargaan masyarakat yang setimpal.keseluruhan unsure-unsur tersebut merupakan manajemen penulisan buku yang kita kenal secara tradisional. Tentunya masih banyak pula unsur-unsur yang mempengaruhi perkembangan dunia perbukuan, antara lain adanya politik pengadaan pembukkuan yang kondusif, perkembangan cinta dan minat baca, sertaapresiasi masyarakat untuk memanfaatkan buku bagi perkembangan pribadi serta penguasaan pengetahuan dan ketrampilan.
Dalam era teknologi informasi yang maju pesat tentunya manajemen penulisan atau pengadaan buku di dalam masyarakat tidak lagi dapat mempertahankan unsure-unsur tradisional seperti diatas. Baik penulisan, isi, dan pemasaran dari buku-buku tersebut akan berubah seperti yang telah dikemukakan. Perubahan-perubahan tersebut menuntut suatu jenis manajemen baru yang sesuai dengan era teknologi informasi yang serba cepat, akurat, kekinian, terbuka, dan murah.
Bagaimanakah dengan keadaan kita di Indonesia? Meskipun Indonesi termasuk salah satu Negara yang sangat kurang produktif di dalam pengadaan buku, namun demikian kita sudah harus mengambil ancang-ancang untuk menghadapi perubahan teknologi informasi yang akanmempengaruhio industri pengadaan, pemanfaatan dan distribusi. Mungkin masih banyak orang yang ragu mengenai kemampuan teknologi kita, namun hal tersebut tidak mengurangi tekad kita untuk mulai mengadakan persiapan-persiapan menghadapi kenyataan yang sudah berada di depan mata kita.
Pertama-tama perlu kita berikan prioritas ialah pengadaan buku-buku pelajaran dan buku-buku universitas. Menurut pendapat para pakar, di Negara-negara berkembang pengadaan buku teks dan buku universitas masih sangat penting dan diperlukan tanggung jawab pemerintah. Di Amerika sendiri yang terkenaldemikian maju industri perbukuannya, pengadaan buku-buku teks dan buku-buku universitas masih merupakan seperempat dari total industri perbukuannya. Pengadaan buku teks dan buku-buku universitas memerlukan para penulis yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu sesuai dengan tuntunan era teknologi informasi dan budaya N-Gen. mengenai buku-buku universitas masih akan terus berlaku tuntutan (Publish on perish). Apabila pendidikan tinggi Indonesia ingin meningkatkan mutu kualitasnya yang masih serba rendah maka perlu digalakkan penulisan buku-buku universitas yang bermutu tinggi. Selain dari pada itu, dalam rangka membangun researchuniversity di Indonesia menuntut berbagai jenis penelitian yang dilaksanakan di lingkungan pendidikan tinggi kita serba publikasi dari hasil penelitiannya.
Penulisan buku untuk universitas sekarang dipermudah dengan tersedianya informasi-informasi yang diperlukan oleh para penulis, misalnya penerbit McGraw-Hill menyediakan data-base intellectual bagi para professor yang ingin menulis buku-bukunya. Perlu kita ingat lagi bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa yang akan dating, karenasikap dan fasilitas yang tersedia, memungkinkan mereka menuntut buku-buku teks yang bukan hanya up-todate tetapi yang membuka cakrawala yang lebih luas baginya..Aksesbilitas informasi yang tak terbatas menuntut penulisan buku-buku universitas yang berkualitas tinggi.
D. HARAPAN UNTUK MASA DEPAN
Demikianlah telah diutarakan mengenai revolusi eksistensi buku di dalam era-maya dewasa ini. Pertanyaan yang muncul di dalam benak kita ialah apa yang perlu dan harus kitaperbuat? Di tengah-tengah arus globalisasi dewasa ini kita tidak dapat mengabaikan begitu saja perubahan yang terjadi di sekitar kita apabila kita tidak mau ketinggalan di dalam kehidupan globalyang terbuka. Langkah-langkah konkret mesti diambil sekarang juga. Berdasarkan pengamatan kemajuan teknologi informasi dan lahirnya budaya N-Gen maka langkah-langkah berikut ini perludilaksanakan.
Menghadapi perubahan yang besar tersebut maka perlu diadakan suatu loncatan kuantum (quantum leap) dalam perbukuan kita, yaitu dari keadaan tradisional menuju kepada pengadaan buku sesuai dengan tuntutan dunia maya. Langkah-langkah tersebut antara lain adanya kemauan politik pemerintah untukmenciptakan iklim yang kondusif untuk lahirnya industri perbukuan. Industri perbukuan terutama di Negara berkembang, belum menarik bagi para investor. Hal ini melahirkan suatu lingkaran setan yang mematikan dunia perbukuan di Indonesia. Oleh sebab itu diperlukan suatu intervensi pemerintah untuk melahirkan dan mengembangkan suatu dunia perbukuan yang menarik. Dewan Buku Nasional yang kuat sebagai pengganti Badan Pengembangan Perbukuan Nasional (BPPN) sudah perlu di lahirkan.
Selain dari pada itu gerakan buku murah perlu digalakkan. Bahwa ada penelitian yang menyatakan minat baca tidak tergantung kepada harga buku perlu diragukan. Tidak ada suatu Negara di dunia di mana masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi tetapi tidak disokong oleh harga buku yang dapat terjangkau. Dengan meningkatnya minat baca maka apresiasi buku dapat digalakkan baik itu buku sastra, ilmu pengetahuan popular, buku ilmiah, ataupun bacaan untuk masa.
2. Persiapan Pengadaan Buku Cyber (E-Book)
Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi di dalam pengadaan buku, maka penguasaan terhadap teknologi tersebut sudah harus dimulai, industri buku Indonesia sudah perlu mengambil ancang-ancang untuk penerapan teknologi pengadaan buku Cyber. sejalan dengan itu persiapan bagi para penulis e-book sudah harus dimulai agar supaya para penulis tersebut telah siap dan memperoleh stimulasi untuk menulis buku-buku yang sesuai. Demikian pula pemasyarakatan buku-buku cyber (e-book), baik di dalam pengadaan perangkat keras maupun perangkat lunak agar supaya semakin lama semakin terjangkau oleh daya beli masyarakat. Hal ini sudah diterapkan oleh Depdiknas dalam sekolah maya.
3. Penilik yang Terampil
Penggunaan e-book mulai dilaksanakan di sekolah-sekolah atau SKB / PKBM dalam penyediaan buku-buku cyber tersebut. Di dalam pelaksanaan program tersebut yang menjadi kunci adalah Tutor yang terampil. Seperti yang dikemukakan oleh pakar pendidikan internet di sekolah, Duncan Grey, para guru dewasa ini kebanyakan buta di dalam penguasaan teknologi informasi yang diperlukan. Apakah sama dengan peniliknya Oleh sebab itu, sudah harus dimulai pesiapan Tutor, Pamong Belajar, Penilik sebagai generasi baru yang menguasai pemanfatan teknologi informasi di dalam proses pembelajaran.
Senin, 10 November 2008
PELANTIKAN IPI CABANG KAB SITUBONDO JAWA TIMUR
Pengangkatan terhadap sejumlah Penilik Indonesia Cabang Situbondo tersebut diharapkan kedepan lembaga ini bisa lebih maksimal dalam melakukan monitoring terhadap pendidikan Kabupaten Situbondo, khususnya untuk Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di Kabupaten Situbondo. Seperti disampaikan Ketua Umum IPI Propinsi Jawa Timur, Arip Puji, E.Sos mengatakan bahwa pihaknya akan membekali semua penilik untuk dapat lebih aktif menjalakan tugas sebagai penilik kegiatan luar sekolah seperti PAUD dan Kegiatan Keaksaraan Fungsional (KF).
Sementara dikonfirmasi terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Situbondo, Drs. Fathorahman mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung dengan pengangkatan IPI Cabang Situbondo, selain itu dengan dibentuknya IPI tersebut pelaksanaan dan kegiatan PLS di Kabupaten Situbondo dapat berjalan sesuai harapan Pemerintah. Lebih jauh Fathorahman mengatakan, mengacu pada PP Nomor 41 Tahun 2004 yang mengatur terhadap struktur dan tata organisasi diharapkan untuk mempermudah rencana Kantor Pendidikan Nasional Kabupaten Situbondo akan menambah satu unit kerja yakni Kasi PAUD. Untuk sementara ini jumlah penilik kegiatan program PLS di masing – masing wilayah kecamatan akan dipersiapkan masing – masing sebanyak 3 personil dan untuk kepengurusan IPI Cabang Situbondo Tahun 2008 – 2013 dipercayakan kepada Drs. M. Zaini dari Kecamatan Bungatan.
| Date: | 2008-11-06 06:26:58 |
| Name: | Situ Bondo |
| Web: | http://situbondo.go.id/pemda/ |
Live Traffic Feed
Feedjit
